BALIKPAPAN, NETIZEN BORNEO โ€“ Seni Bergerak menggelar aksi melukis bersama dalam Opening Ceremony Pekan Budaya Borneo 2026, Jumat (6/11/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Balikpapan Art Fair 2026. Aksi tersebut menghadirkan eksplorasi seni rupa lintas disiplin melalui seni rupa pertunjukan atau performance art bertajuk “JEJAK KITA”.

Seni Bergerak ingin memperluas cara pandang terhadap seni rupa. Mereka juga membuka ruang partisipasi yang lebih luas bagi masyarakat. Selama ini, banyak orang memahami seni rupa sebatas melukis, menggambar, atau mematung. Padahal, wilayah ekspresi seni rupa jauh lebih luas. Seni rupa dapat hadir sebagai proses, tindakan, pengalaman, dan peristiwa artistik.

Seni Rupa Tidak Hanya Tentang Kanvas

Inisiator Seni Bergerak, Panca Bayumurti, menjelaskan gagasan ini lahir dari cara komunitasnya memandang seni sebagai kerja kebudayaan. “Seni rupa adalah medium ekspresi yang sangat luas. Tubuh, gerak, bunyi, ruang, bahkan interaksi antarmanusia juga bisa menjadi bagian dari praktik seni rupa,” ujarnya.

Dalam pendekatan seni rupa pertunjukan, tubuh menjadi medium. Gerak menjadi bahasa, bunyi menjadi bagian dari komposisi. Ruang dan interaksi dengan publik menjadi elemen yang membentuk sebuah karya.

Seni Bergerak menerjemahkan gagasan itu dalam pertunjukan “JEJAK KITA”. Pertunjukan ini mengawali aksi melukis bersama. Berbagai elemen seni menyatu dalam satu kesatuan. Mulai dari permainan instrumen musik, pembacaan narasi, eksplorasi gerak, hingga aksi melukis bersama.

Totok, seniman asal Penajam Paser Utara, menghadirkan permainan suling titir Bali, seruni Minang, dan suling tompong Paser. Panca Bayumurti memainkan djembe, didgeridoo, dan rain stick. Didgeridoo merupakan instrumen tiup tradisional suku Aborigin Australia.

Uddin FM, seniman asal Palu, Sulawesi Tengah, bersama Marlia dari Suara Rimba terlibat dalam aksi performance art. Mereka juga membawakan pembacaan narasi. Perpaduan bunyi, kata, gerak, dan aksi visual membangun pengalaman artistik. Pengalaman ini tidak hanya mengandalkan apa yang terlihat, tetapi juga apa yang terdengar dan terasa.

Musik sebagai Bahasa Ekspresi

Panca mengaku memiliki ketertarikan pada musik etnik dan perkusi. Djembe sudah lama menjadi bagian dari eksplorasi musikalnya. Pemilihan djembe dan didgeridoo bukan semata karena bunyinya unik.

“Keduanya memiliki karakter bunyi yang kuat dan mampu membangun suasana. Djembe menghadirkan ritme dan denyut, sementara didgeridoo memberikan karakter suara yang lebih dalam dan atmosferik,” jelasnya.

Panca ingin bunyi tidak hanya menjadi pengiring pertunjukan. Bunyi menjadi bagian dari bahasa ekspresi. Dalam “JEJAK KITA”, musik, tubuh, gerak, dan visual saling merespons. Semuanya menjadi satu kesatuan ekspresi yang tidak memerlukan kata-kata.

Dari Penonton Menjadi Bagian dari Karya

Aksi ini juga membawa gagasan tentang pentingnya keterlibatan masyarakat dalam proses kebudayaan. Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo, memulai pertunjukan dengan goresan pertama pada kanvas. Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Kalimantan Timur, Lestari, turut memberikan goresan pembuka. Sejumlah pejabat dan undangan yang hadir juga ikut serta.

Setelah goresan pembuka, panitia membuka kanvas bagi para perupa dan masyarakat. Mereka dapat ikut mengambil bagian dalam proses penciptaan karya bersama.

Panca menegaskan sejak awal pihaknya tidak ingin aksi ini berhenti pada seremoni simbolis. “Goresan pertama dari Wakil Wali Kota dan Kepala BPK Kaltim menjadi pembuka, tetapi setelah itu ruang harus benar-benar diberikan kepada masyarakat,” ujarnya.

Seni Bergerak ingin menghilangkan batas antara seniman dan bukan seniman. Tidak ada tuntutan harus bisa melukis. Tidak ada standar bagus atau tidak bagus.

“Yang terpenting bukan seberapa bagus hasil goresannya, tetapi keberanian untuk terlibat dan menjadi bagian dari sebuah proses bersama. Kanvas itu bukan lagi milik satu seniman, melainkan ruang bersama tempat setiap orang punya kesempatan meninggalkan jejak,” jelas Panca.

Tantangan Mengubah Kanvas Menjadi Ruang Interaksi

Panca menyebut tantangan terbesar adalah mengubah cara pandang masyarakat. Selama ini, sebagian orang mungkin melihat melukis sebagai aktivitas khusus bagi orang yang memiliki kemampuan seni.

“Kami ingin mematahkan anggapan itu. Membangun ruang interaksi berarti menciptakan suasana yang membuat orang merasa diterima, tidak takut salah, dan tidak merasa sedang dinilai,” ujarnya.

Secara teknis, Seni Bergerak juga harus memikirkan bagaimana ruang, waktu, media, dan keterlibatan publik bisa berjalan beriringan. Ini bukan sekadar menyediakan kanvas dan cat. Ini tentang membangun sebuah pengalaman kolektif.

Momen Paling Berkesan

Momen paling berkesan bagi Panca justru ketika melihat masyarakat mulai berani mendekat, mengambil kuas, dan ikut memberikan goresan di atas kanvas. Ada yang datang dengan penuh percaya diri. Ada yang awalnya ragu-ragu, tetapi akhirnya ikut terlibat.

“Di situ saya merasa gagasan yang sejak awal kami bangun mulai menemukan bentuknya. Bahwa seni tidak harus selalu tentang siapa yang menciptakan karya, siapa yang paling hebat, atau siapa yang paling memahami seni,” ujarnya.

Panca menilai ada sesuatu yang jauh lebih penting, yaitu ketika seni mampu mempertemukan banyak orang dalam satu ruang dan pengalaman yang sama.

“Bagi saya, JEJAK KITA bukan hanya tentang kanvas yang penuh warna, tetapi tentang jejak keterlibatan, kebersamaan, dan ingatan kolektif yang kita bangun bersama. Itulah yang ingin terus kami dorong melalui Seni Bergerak,” pungkasnya.

Membangun Ekosistem, Memperluas Kemungkinan

Pendekatan ini merupakan bagian dari cara Seni Bergerak memandang seni sebagai kerja kebudayaan. Bukan hanya berorientasi pada produksi karya. Seni juga membangun ruang temu, membuka dialog, mempertemukan berbagai disiplin, dan menghubungkan seniman dengan masyarakat.

Aksi melukis bersama ini tidak berhenti pada momentum pembukaan. Kanvas yang menjadi bagian dari pertunjukan terus berlanjut selama penyelenggaraan Balikpapan Art Fair 2026. Para perupa dan pengunjung memiliki kesempatan terus memberikan goresan. Mereka terlibat dalam proses penciptaan karya kolektif tersebut.

Pada akhirnya, Seni Bergerak ingin membangun ruang yang memungkinkan seni terus bergerak, bertemu, dan tumbuh bersama masyarakat. Sebab seni rupa tidak selalu harus berakhir pada karya yang selesai. Seni juga dapat hidup dalam sebuah tindakan, perjumpaan, dan pengalaman yang meninggalkan makna.

Bagi Seni Bergerak, seni bukan hanya untuk dilihat. Seni juga untuk kita alami, pikirkan, dan lakukan bersama.(Far)


๐Ÿ“ NETIZEN BORNEO โ€” Suara Warga Kalimantan, Mata Hati Borneo
๐ŸŒ Website: www.netizenborneo.com
๐Ÿ“ฑ Instagram: netizen_neo
๐ŸŽฅ TikTok: netizen__neo
๐Ÿ“ฉ Email Redaksi: info@netizenborneo.com
๐Ÿ’ฌ WhatsApp Redaksi: 0821-3555-5475